Friday, June 5, 2009

Behaviour Flexibility (1)

Oleh : Zainal Abidin (Jay, de Terorist)

Ambillah lima sendok makan garam, kemudian masukkan seluruhnya ke dalam sebuah gelas. Isi gelas itu dengan air, tapi jangan sampai penuh. Aduklah. Setelah garam larut seluruhnya dalam air, celupkan jari telunjuk anda. Tanpa harus menunggu lama, arahkan jari telunjuk itu ke lidah anda. Apa rasanya?

Asin? So pasti.

Coba ambil lima sendok makan garam, lalu masukkan ke dalam sebuah ember. isilah ember tersebut dengan air. Aduk sebentar sampai garamnya larut seluruhnya. Celupkan kembali jari telunjuk anda, dan rasakan kembali. Asinkah? MUngkin masih asin, tidak seasin percobaan pertama.

Berikutnya, coba bawa air dalam gelas dan air dalam ember ke sebuah kolam renang. Campurkan seluruh air itu dengan air di kolam renang. Apa rasanya? Tidak ada sedikitpun rasa asin, sekalipun ke dalam kolam renang dimasukkan 10 sendok makan garam yang sudah dilarutkan.

Percobaan sederhana itu menjelaskan sebuah fenomena yang dikenal sebagai kelenturan perilaku (behaviour flexibility) . Percobaan sederhana ini menjawab berbagai pertanyaan seperti ini :

1. Mengapa ada orang yang sukarela mengakhiri hidup dengan menggantung diri ketika patah hati atau ditolak cintanya, sedangkan di sisi lain ada orang yang menerima kondisi itu dan mencoba mencari calon lain untuk pasangan hidupnya?

2. Mengapa ada orang yang membakar pabrik bekas tempatnya bekerja karena di PHK, sementara ada orang lain yang kemudian mencari pekerjaan lain atau bahkan memulai sebuah usaha dan kemudian bisa sukses?

3. Mengapa ada kasus perkelahian atau bahkan pembunuhan gara-gara uang receh, sedangkan di sisi lain ada orang yang masih cengar-cengir ketika ditimpa kerugian milyaran rupiah?

4. Mengapa ada orang yang langsung pingsan atau meninggal gara-gara dapat undian berhadiah seratus juta rupiah, sedangkan di sisi lain ada orang yang masih mengeluh ketika bisnisnya hanya menghasilkan keuntungan seratus juta dollar?

5. Ada orang yang kebal kritik, tetapi di sisi lain ada orang yang sedikit tersinggung, golok bicara ...

Masih banyak contoh lain. Dan artikel ini bukan sekedar mengumpulkan contoh.

Respon manusia terhadap suatu kejadian, bukan tergantung pada jumlah 'garam'nya, tetapi lebih pada seberapa banyak 'air' yang dimilikinya. Orang-orang yang 'air'nya sedikit, bagaikan petasan dengan sumbu pendek. Begitu sumbunya tersulut api, langsung meledak. Dapat cobaan sedikit saja, putus asa. Dapat sedikit kesulitan, mengeluh. Ada sedikit halangan, ngomel. Sedikit tersinggung, golok bicara. Mereka hanya punya satu pilihan. Bakar!

Mereka yang punya 'air' lumayan banyak, memiliki beberapa pilihan respon. Jika diuji dengan masalah, ia punya pilihan lain selain putus asa. Ketika menghadapi kesulitan, ia punya pilihan lain selain mengeluh. Ketika menghadapi halangan, ia punya pilihan lain selain ngomel.

Jay, de Terorist
www.zainalabidin.net
www.zainalabidin.niriah.com
081 7654 4567


PS. Terima kasih bang Jay yang telah mengijinkan menampilkan tulisannya di sini

Thursday, June 4, 2009

Warung Makan Itu

Tempatnya bersih. Tertata rapi. Harga makanannya murah. Rasanya pas di lidah.

Tidak ada yang neko neko. Warung itu ya tempat untuk makan. Orang datang, pesan, makan lalu pergi. Meja dan bangku panjang yang disediakan memang tidak memungkinkan untuk asyik ngobrol. Terlalu berdekatan dengan orang lain yang sedang makan di warung itu juga. Tetapi kelihatannya semua orang memang datang hanya untuk makan. Bukan untuk ngobrol. Kalaupun ada obrolan yang terdengar, hanyalah obrolan ringan ringan saja.

Pasar yang dituju pun sangat jelas. Orang orang yang cari makanan murah. Murah tapi kenyang. Lokasinya memang di tepi jalan besar. Di sekelilingnya pemukiman padat. Bukan perumahan mewah. Tidak sedikit yang datang untuk di bawa pulang. Motor datang dan pergi menjadi pemandangan yang lajim.

Pelayannya dua orang. Ramah, melayani dengan senyuman. Satu orang lagi bertugas sebagai kasir. Konsep warungnya memang unik. Nasi di ambilkan, lalu lauk pauk ambil sendiri. Untuk menu makanan tertentu, akan diambilkan oleh pelayan. Sayur misalnya, bila kita minta untuk disajikan dalam mangkok. Setelah makan, barulah kita ke kasir. Menyebutkan apa saja yang kita makan. Kasir akan menghitungnya lalu kita membayar. Tidak terlihat kekhawatiran bahwa yang makan berbohong. Makan dua tempe tapi mengaku satu misalnya. Ikhlas saja. Berperasangka baik kepada semua yang makan.

Menu makanannya cukup variatif. Selintas warung itu adalah warteg yang dimodifikasi. Semua menu makanan warteg ada. Juru masaknya tentu ahli, karena rasa masakannya pas di lidah. Paling tidak pas di lidah penduduk sekitar situ. Manajemen dapurnya pasti sangat rapi. Semua menu siap terhidang sekitar jam 11-an. Padahal menunya cukup banyak. Jam 12 orang sudah ramai berdatangan.

Di dapur terlihat ada Freezer dan Chiller. Hebat juga. Untuk warung sekelas begini, sempat sempatnya beli alat alat itu. Rupanya itu adalah salah satu cara agar harga makanan tetap murah. Beli dalam jumlah besar, lalu simpan di freezer atau chiller. Tentunya bila membeli dalam jumlah besar harganya akan jauh lebih murah. Yang namanya bahan makanan, bila tempat penyimpanannya tidak baik, maka makanan akan mudah rusak. kemampuan untuk menjaga agar bahan makanan tidak rusak atau menghindari waste inilah yang juga membantu menekan harga jual.

Hmmmm. Menarik untuk di pelajari ...

Wednesday, June 3, 2009

KPR Refinancing

Dulu saya beranggapan bahwa KPR itu hanya untuk pembelian rumah. Ternyata tidak juga. Bila kita sudah punya rumah, dan perlu dana maka kita bisa mengagunkan rumah tersebut. Memang ada yang namanya Kredit Multiguna, dimana agunanannya bisa berupa property atau kendaraan. Tetapi skemanya bukan lah KPR. Nah yang saya maksud adalah KPR betulan. Suku bunganya adalah suku bunga KPR. Jangka waktu pinjaman pun seperti layaknya KPR, bisa hingga 15 tahun.

Tidak semua bank mengeluarkan produk KPR Refinancing ini. Yang saya tahu adalah BCA dan Panin. Bila saya tidak salah, ada juga Bank Syariah yang mengeluarkan KPR Refinancing ini.

Lalu, bedanya apa dengan KPR biasa? Bedanya adalah di jumlah kredit yang dicairkan. Bila kita membeli rumah dengan skema KPR maka dana yang cair adalah 80% dari nilai rumah. Pada KPR Refinancing, dana yang cair adalah 70% dari nilai rumah. Persentase ini adalah untuk KPR Refinancing Bank BCA. Untuk bank lain, persentasenya mungkin berbeda. Akan tetapi pada prinsipnya, jumlah dana yang cair lebih kecil untuk refinancing.

Jadi, bila anda butuh dana, untuk pengembangan usaha misalnya, anda dapat mengagunkan rumah anda. Saran saya, pilihlah KPR Refinancing, karena bunga KPR biasanya lebih murah dibandingkan bunga kredit jenis lain yang juga berbasis agunan rumah (Multiguna misalnya).

Tentunya anda harus bijaksana dalam mengajukan kredit ini. Setiap yang namanya pinjaman, tentunya ada biayanya dan biaya itu harus bisa ditutup oleh aktivitas yang dibiayai oleh pinjaman itu sendiri.

Tuesday, June 2, 2009

Maka nikmat Tuhan Mu manakah yang kamu dustakan?

Kemarin silaturahmi ke rekan satu SMA dulu. Sekarang profesinya sopir angkot. Anaknya empat. Minta tolong di carikan kerja, soalnya angkot makin banyak. Setoran kadang tidak dapat. Sekarang sih dia sudah berusaha kreatif dengan juga melayani antar jemput anak sekolah. Tetapi, ya begitulah. Ada saja yang 2 sampai 3 bulan tidak bayar, setelah itu kabur. Kalau kebetulan berpapasan dan di tagih, janji janji saja dan tidak dipenuhi.

Lihatlah ke sekeliling. Masih banyak orang yang tidak seberuntung kita.

Maka nikmat Tuhan Mu manakah yang kamu dustakan?

Monday, June 1, 2009

Buka Kios HP di Mall, Apa Yg Harus Dipersiapkan ?

Kalau pertanyaan itu ditanyakan sekarang, jawaban saya "langsung saja mulai jika anda punya uang untuk bayar sewa". Lho, yang lain-lain bagaimana? Sambil jalan saja !!!

Dulu saya mempersiapkan semuanya. Etalase, stok awal, kuitansi, cap toko dan lain sebagainya. Waktu set upnya cukup lama. Etalase misalnya. Cukup lama, bertanya sana sini mengenai dimana buatnya (termasuk nanya ke milist TDA he he he). Terus janjian, buat ngukur kios. Nego harga. Lalu proses pembuatan etalasenya sendiri makan waktu satu sampai dua minggu. Selanjutnya mengurus ijin bongkar muat barang, soalnya tidak sembarangan juga masukin barang ke mal. Ada jam jam nya.

Sambil nunggu etalase, saya cari cari percetakan. Kuitansi kan harus ada. Lalu pesan. Tunggu lagi beberapa hari untuk siap. Begitu juga cap toko. Selanjutnya, cari supplier aksesories untuk di pajang sebagai stok awal. Cari HP baru dan second untuk di stok. Keliling keliling nyari kesana kemari.

Jadi, cukup banyak waktu dan tenaga disisihkan untuk persiapan.

Sekarang, setelah menjalaninya ternyata semuanya bisa diadakan sambil jalan.

Ternyata ada saja kios yang disewakan sudah dengan etalase di dalamnya. Lalu, kita duduk manis saja di kios. Ada saja supplier aksesories yang datang menawarkan barang. Demikian juga dengan kuitansi? setiap hari juga ada yang nawarin. Mau buat kuitansi pak? Lebih lengkap malah. Soalnya, biasanya yang menawarkan cetak kuitansi juga melayani pembuatan stempel toko dan stiker segel (biasanya HP kan di segel bautnya).

Lalu, barang dagangan bagaimana? Nah ini serunya. Ternyata modalnya hanya list harga saja. Lho, barangnya? Ada !!! Untuk HP baru ada di distributor, sedangkan HP second ada di toko tetangga :)

Semua pertanyaan jawabnya "Ada !!!"

Mas, punya HP Nokia E90 tidak? oh ada pak. Mau yang baru atau second. Barunya berapa? sekian ... gak bisa kurang tuh? Bpk nawar berapa? Sekian boleh tidak... OK deh pak, buat bapak saya kasih. Tukar tambah ya pak. HP bapak yang sekarang apa? Dapat deh HP second satu.

Selanjutnya, lari deh ke distributor ambil barangnya. Jadi tidak di stok. Jual setelah ada pembeli. Aksesories juga begitu. Setelah sepakat harga dengan konsumen, baru barangnya di ambil. Kalau konsumennya mau lihat barang dulu? Ya ambil dulu aja ke distributornya. Yang saya alami, mereka tidak keberatan kok. Kalau tidak jadi ya dikembalikan.

Menunggu segala sesuatunya lengkap malah akan memperlama anda untuk memulai. Jadi mulai saja !!! Benahi sambil jalan. Kondisi tidak ada barang sama sekali ini tidak boleh juga berlama lama, karena tidak semua konsumen mau menunggu. Tetapi sebaliknya jangan juga dijadikan alasan untuk tidak segera memulai. Ayo mulai !!!

Saturday, May 30, 2009

Krisis sudah sampai ke Indonesia ya ?

Seorang rekan yang bidang usahanya jasa cargo, pengiriman barang, dan ekspor impor mengeluh kepada saya. Sepiiii !!! Rekan yang lain ketika saya telpon sedang berada di angkot. Padahal selama ini kemana mana ya naik mobilnya sendiri. Mobilnya kemana ? tanya saya. Di rumah jawabnya. Kok di tinggal di rumah? Iya, ini lagi berhemat. Sudah tiga bulan ini belum di gaji. What ??? tiga bulan ??? Perusahaan tempat nya bekerja memproduksi furniture yang mayoritas di ekspor ke Jepang. Saat ini permintaan dari Jepang tidak ada sehingga tidak ada penjualan.

Rekan yang lain ketika saya telpon sedang di rumah? Gak ke kantor? tanya saya. Iya, ini lagi dirumahkan... Perusahaan tempatnya bekerja bergerak di bidang pertambangan batu bara dan timah.

Kemarin saya bercerita tentang anak muda yang punya 12 toko HP di Cempaka Mas. Dia pun bercerita bahwa sekarang-sekarang ini omzetnya menurun 30 persen. Pak Tris dan Bu Evi, Rekan yang lain yang punya 4 toko Handphone di Sentra Bisnis Harapan Indah juga merasakan penurunan omzet. Sebenarnya sih tidak usah jauh jauh. Usaha kios Handphone yang saya buka dengan Pak Imansyah pun mengalami penurunan omzet yang sama. Dari menyewa 2 kios, sekarang sudah kami ikhlaskan untuk menutup satu kios.

Tentu saja tulisan ini bukan bermaksud untuk menurunkan semangat anda. Tetapi agar kita mengantisipasinya.

Bagaimana dengan usaha anda ? Mudah-mudahan tetap maju ya ...

Friday, May 29, 2009

The Law of Large Number

Kunjungan ke Cempaka Mas beberapa waktu yang lalu memberikan sudut pandang yang sedikit berbeda dalam hal buka kios di mall. Saya bertemu dengan seorang anak muda yang mempunyai 12 kios Handphone di pusat perbelanjaan itu. Luar biasa. Buka satu saja pusing, bagaimana 12. Begitu pikir saya.

Pada saat saya sampaikan pemikiran itu dia malah tertawa. Kalau buka satu, jelas aja pusing katanya. Pusing mikir omzet, mikir gaji pegawai, dll. Setiap bulan ketar ketir he he he... Tidak usah satu, buka 2 pun masih begitu. Dia bercerita bahwa dia mulai tidak pusing ketika buka 5 kios. Lho, kok bisa? Yang tidak kita sadari adalah, ketika kios kita jumlahnya cukup banyak, maka secara total, omzet yang ada sudah terasa longgar untuk membayar biaya biaya tetap yang ada. Disatu kios kurang, di kios yang lain lebih. Ada bemper di kios yang lain, bila satu kios menurun omzetnya. Masuk akal juga...

Kalau begitu, kita buka saja sebanyak banyaknya, kata saya. Ya tidak begitu juga. Dia tetap menyarankan dilakukan perhitungan awal dulu. Bila hasil perhitungan awal negatif, jangan diteruskan. Tetapi kalau hasil perhitungan impas, coba saja. Lalu, setelah berjalan di evaluasi. Kios-kios yang terus menerus negatif di tutup saja. Cut loss, kata pemain saham.

Berapa lama masa evaluasi? menurut pengalaman Koko kita ini, untuk usaha HP di Cempaka Mas akan terlihat pada bulan ke sembilan. Bila tidak menghasilkan pada bulan itu, ya siap siap aja di tutup.

Pusing buka satu??? Buka lima !!!